Profil KH. Zaeni Ilyas Pengauh PP. Miftahul Huda Rawalo Banyumas
Putra
dari KH Ilyas dan simbah nyai Hj.sholihah, lahir pada tanggal 11 januari 1932
di desa Pesawahan. Ayahnya, KH Ilyas adalah seorang kepala desa yang disegani
karena ketegasannya dan kedermawanannya. Sebagai tokoh desa dan juga hartawan,
KH Ilyas dikenal sangat dekat dengan para ulama. Beliau dikenal muhibbin, orang
yang dekat dan senang bergaul dengan para ulama. Hal ini antara lain
ditunjukkan dengan seringnya beliau bersilaturahim, sowan ke kyai-kyai yang
masyhur pada zaman itu. Begitu pula para habaib, biasa rawuh ke ndalem beliau
untuk mendoakan dan memberi berkah.
Kesholehan KH Ilyas sebagai tokoh agama juga dikenal
masyarakatnya, dimana beliau sangat tegas dan bijak dalam mengajak
maasyarakatnya untuk sholat lima waktu. Selain itu melalui zakat mal, beliau
juga berupaya mengentaskan kesulitan ekonomi masyarakat sekitar dan sekaligus
menjadi media dakwah. Kedekatan KH ilyas dengan masyarakat juga terlihat dimana
banyak masyarakat sekitar yang apabila mengalami masalah baik ekonomi auatupun
lainnya datang kepada beliau untuk mencari solusi.
Kecintaan KH Ilyas juga ditunjukkan dengan mengirim
putra-putra beliau ke pesantren, diantaranya adalah KH Amir dan KH zaini Ilyas.
KH zaini ilyas adalah putra terakhir KH Ilyas yang saat ini menjadi pengasuh PP
Miftahul Huda Pesawahan.
Setelah
ngaji ala kampung, pada tahun 1947 KH zaini Ilmyas muda dipondokkan oleh
ayahnya di PP Mafatihul Huda Jampes Kediri untuk berguru pada Syekh Ikhsan.
Setahun berada di sana, ibu tercinta meninggal dunia, hingga akhirnya beliau
pulang ke rumah untuk beberapa waktu.
Setelah ditinggal ibunda tercinta, KH Zaini Ilyas muda di kirim lagi ke pesantren oleh ayahnya. Kali ini di pilihlah Pondok Pesantren al Ihya ulumaddin Kesugihan untuk berguru pada KH Badawi Hanafi, tokoh ulama dan mursyid thorikoh yang masyhur kala itu di daerah Cilacap dan Banyumas, yang kemudian hari menjadi ayah mertuanya. Di kesugihan, beliau mesantren selama 3 tahun. Ketika mesantren disini, sudah terlihat kecerdasan dan kengaliman beliau. Diantaranya beliau ngaji sampai kelas alfiyah dimana tidak banyak teman sebayanya yang mencapai kelas ini. Bahkan, oleh guru nahwunya, yaitu kyai Hadi, beliau sering diminta mbadali ngajar nahwu, baik alfiyah maupun lainnya ketika kyai hadi yang merupakan pengurus pondok saat itu, berhalangan. Baca Selengkapnya
Bukan hanya itu, keistimewaan KH Zaini Ilyas muda
kemudian diketahui oleh putra pengasuh pondok, yaitu oleh K Muhammad Badawi
yang menceritakan perihal prestasi KH Zaini ilyas muda pada ayahnya. Alhasil,
oleh KH Badawi Hanafi, KH Zaini Ilyas muda ditimbali khusus kemudian di beri
kesempatan untuk ngaji langsung pada beliau.
Setelah tiga tahun belajar di pondok kesugihan pada
KH Badawi Hanafi, KH Zaini Ilyas kembali meneruskan perjalanan mesantrennya
dengan kembali lagi ke jampes untuk kembali berguru pada Syeh Ikhsan. Beliau
menghabiskan waktu tiga tahun mesantren pada syeh ihsan. Di jampes, Pendidikan
yang ditempuh sampai tingkat Aliyah. Disini pun, keistimewaan KH Zaini mencuri
perhatian para pengasuhnya. Diantaranya adalah beliau langsung diminta untuk
ikut menjadi pengajar di pesantren tersebut. Bahkan oleh gus Muhammad, putra
syekh Ikhsan, KH zaini Ilyas ditunjuk langsung untuk menjadi lurah pondok.
Selama di jampes, KH zaini ilyas juga pernah ngaji jolok
ilmu falak pada Kyai masduki yang merupakan alumni pondok jampes, secara jolok
yaitu di laju dari pondok jampes ke ndalemnya kyai masduki di desa Minggiran
yang berjarak kurang lebih tiga kilometer dari jampes.
Saat
masih di Jampes, KH Zaini Ilyas mendengar cerita tentang sosok kyai Masduki,
pengasuh Pondok Pesantren al-Islah Lasem yang dikenal sangat alim, ahli hadist
dan juga ahli tafsir. Di gambarkan, jika sedang mengaji semua kitab tafsir
diterangkan dengan hapal dan gambling oleh beliau. Kyai masduki adalah alumni
pondok tremas. Selain sangat alim, beliau adalah saudagar sukses yang sukses
pula membangu pondoknya saat itu. Beliau juga terkenal kewaliannya. Banyak
cerita-cerita tentang kewaliyannya beredar. Bahkan, diantaranya KH Zaini Ilyas
sendiri pernah membuktikan. Dimana saat KH Zaini Ilyas merasa ada sedikit
kekurang sreg-an dengan Kyai Masduki yang sedikit memunculkan suudzon, KH zaini
Ilyas langsung dimimpikan dimana KH Masduki tidak kerso salaman. Hal ini
kemudian menjadi pelajaran berharga bagi beliau dimana belajar dan mondok harus
menata niatnya, harus husnudzon pada guru agar memperoleh ridlo guru.
Di lasem, beliau cukup lama, yaitu kurang
lebih 5 tahun. Selama di Lasem, beliau pun pernah mengaji kilatan puasaan ke
kediri yaitu ngaji pada kyai Zuweni Nuh di Pare Kediri yang merupakan alumni
tebuireng. Dua kali kilatan puasa di sana khusus untuk ngaji kitab shohih
bukhori pada kali waktu, dan kitab shohih muslim pada waktu lain.
Setelah lima tahun di Jampes, beliau kembali
ke pondok kesugihan. Di sinilah kemudian, KH Zaini Ilyas menutup masa lajangnya
dengan menikahi putri kyai nya yaitu, Ny.Hj.Mutasingah Badawi. KH Badawi Hanafi
yang sudah akrab dengan KH Ilyas, kemudian asepakat menjodohkan putra-putri
mereka, sampai beberapa kali rembukan acara pernikahan. Pada suatu hari, yaitu
hari kamis, pada saat rembuk acara pernikahan berlangsung, tiba-tiba kyai
Badawi ngendika supaya rembukan tersebut harus selesai, karena beliau tidak
akan menangi. Dan ternyata keesokan harinya kyai Badawi wafat. Sehingga pada
kemudian hari pernikahan putrinya di walikan oleh KH Mustholih Badawi, kakak
dari Ny. Hj.Mutasingah.
Setelah
menikah, KH Zaini ilyas belum langsung boyong, baru setelah 3 tahun, yaitu
tahun 1963 beliau memboyong istrinya yang juga putri kyainya, yaitu
Ny.Hj.Mutasingah Badawi ke desa Pesawahan. Seboyongnya KH Zaini Ilyas ini, ada
beberapa santri kesugihan yang ikut yang kemudian menjadi cikal bakal santri
dari pesantren Miftahul Huda kelak. Diantara santri yang pertama adalah kyai
adzro’i dari jawa timur. Berjalannya dengan waktu, santri-santri dari KH
Sya’roni pondok sidamulih yang secara letak geografis adalah tetangga desa,
banyak yang jolok ngaji ke KH Zaini Ilyas. Diantara santri-santri jolok
tersebut ada Prof mubarok, Prof Wahib mu’thi alm. Lambat laun santri dari
berbagai daerah datang untuk ngaji pada beliau. Pesantrennya pun kemudian
berkembang dengan nama pondok pesantren Miftahul Huda Pesawahan.
Demikian
perjalanan beliau KH Zaini Ilyas yang mengawali berdirinya pondok pesantren
Miftahul Huda Pesawahan
Sumber
ibu nyai fb Umni Labeb

0 Response to "Profil KH. Zaeni Ilyas Pengauh PP. Miftahul Huda Rawalo Banyumas"
Posting Komentar